Cerita Jejak Traveling Priscanara

Ada kalanya sebuah perjalanan bukan hanya tentang destinasi, tetapi tentang penemuan kembali diri sendiri di tengah kesederhanaan dan keagungan alam. Itulah yang saya rasakan ketika menjejakkan kaki di Wae Rebo, desa adat terpencil di Nusa Tenggara Timur yang sering dijuluki “surga di atas awan”. Perjalanan saya kali ini lebih dari sekadar liburan; ini adalah sebuah ziarah budaya yang saya tempuh dengan sepeda motor, menginap di rumah warga, dan membiarkan diri saya larut dalam kearifan lokal yang memesona.
Perjalanan menuju Wae Rebo adalah sebuah petualangan tersendiri. Titik awal pendakian dimulai dari Desa Denge, yang dapat dicapai setelah perjalanan darat beberapa jam dari Labuan Bajo. Saya memilih menggunakan sepeda motor untuk merasakan denyut kehidupan Flores lebih dekat. Melintasi jalanan berkelok dengan pemandangan perbukitan hijau dan lembah yang memukau adalah pengalaman yang tak terlupakan. Udara segar dan senyum ramah penduduk lokal di sepanjang jalan seolah menjadi penyemangat.
Dari Desa Denge, perjalanan sesungguhnya dimulai. Akses menuju Wae Rebo tidak bisa dilalui kendaraan roda empat sepenuhnya, sehingga saya melanjutkan perjalanan dengan ojek motor lokal melalui jalan setapak yang menantang. Inilah bagian dari petualangan yang memacu adrenalin, di mana keterampilan pengendara lokal dalam menaklukkan medan terjal begitu mengagumkan. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan trekking mendaki sekitar dua hingga tiga jam. Lelah? Tentu. Namun, semua itu terbayar lunas ketika siluet tujuh rumah adat berbentuk kerucut yang ikonik, Mbaru Niang, mulai terlihat di antara kabut.
Tinggal di Jantung Kebudayaan Manggarai
Wae Rebo terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, membuatnya seringkali diselimuti kabut, menciptakan suasana magis seolah berada di negeri atas awan. Desa ini hanya memiliki tujuh Mbaru Niang yang melingkari sebuah batu melingkar di tengahnya yang disebut Compang, pusat aktivitas dan upacara adat warga. Keunikan arsitektur dan tata letak desa ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.
Saya cukup beruntung bisa merasakan pengalaman menginap di salah satu Mbaru Niang, rumah panggung tradisional yang bisa dihuni oleh enam hingga delapan keluarga. Tidak ada sekat kamar pribadi di sini; kami tidur bersama di atas tikar dalam satu ruangan besar. Pengalaman ini mengajarkan saya tentang arti kebersamaan dan toleransi. Makan malam bersama wisatawan lain dan keluarga lokal sambil berbagi cerita di bawah temaram lampu menjadi salah satu momen paling berharga.
Menjelajahi Kehidupan dan Tradisi Lokal
Tinggal bersama warga Wae Rebo membuka mata saya tentang kehidupan mereka yang menyatu dengan alam. Sebagian besar penduduknya adalah petani kopi, dan saya berkesempatan melihat langsung proses pengolahan kopi arabika Flores yang khas, dari memetik hingga disangrai secara tradisional. Aroma kopi segar yang diseduh langsung oleh para mama di pagi hari yang dingin adalah kemewahan yang tak ternilai.
Masyarakat Wae Rebo memegang teguh adat dan tradisi yang diwariskan leluhur mereka, yang konon berasal dari Minangkabau. Salah satu upacara adat terpenting adalah Penti, sebuah ritual untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen. Meskipun saya tidak bertepatan dengan upacara tersebut, semangat spiritualitas dan penghormatan terhadap alam dan leluhur sangat terasa dalam setiap sendi kehidupan mereka.
Menjelajahi sekitar desa dengan berjalan kaki atau sekadar duduk di depan Mbaru Niang sambil memandangi kabut yang turun perlahan adalah sebuah meditasi. Di sini, waktu seakan berjalan lebih lambat, memberikan ruang untuk refleksi dan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk kota.
Tips Perjalanan ke Wae Rebo:
Perjalanan ke Wae Rebo lebih dari sekadar melihat keindahan alam. Ini adalah perjalanan untuk merasakan kehangatan, kesederhanaan, dan kekayaan budaya yang masih hidup dan terjaga. Sebuah pengalaman yang akan selalu tersimpan di hati dan pikiran saya. Jika Anda mencari petualangan yang menyentuh jiwa, Wae Rebo adalah jawabannya.
Recent Comments